Kejujuran (bagian III)
Lanjutan dari bagian II.
Peradaban suatu masyarakat (termasuk ilmu dan teknologi yang ada di dalamnya) dapat berkembang dengan landasan kejujuran. Jujur dalam menyikapi setiap fenomena yang dialami masyarakat tersebut setiap saat. Jangan berharap kemajuan peradaban suatu masyarakat, apabila ditemukan pengikisan terhadap nilai-nilai kejujuran dalam masyarakat tersebut. Kejujuran juga menjadi nilai penting dalam sistem Islam (saya lebih senang menyebut Islam sebagai sistem, yang cakupannya jauh lebih luas daripada agama maupun ritual). Sang teladan umat Islam, yang tidak lain adalah Rasulullah SAW, pernah bersabda dengan redaksi yang lebih kurang seperti ini (mohon koreksi bila salah),
“Andaikata anakku Fatimah mencuri, aku tidak akan segan-segan untuk memotong tangannya”
Beliau juga menyebutkan tiga ciri orang munafik yang merupakan kontradiksi dari orang yang jujur: berbicara dusta, ingkar janji, dan berkhianat dengan kepercayaan. Sungguh kejujuran adalah poin yang sangat penting dalam Islam.
Kita tidak boleh mengizinkan atau memaafkan suatu ketidakjujuran. Kita diberi tanggung jawab oleh Allah untuk mengingatkan orang di sekitar kita semampu kita, apabila orang tersebut melakukan suatu ketidakjujuran.
Negeri ini sudah sangat permisif dengan ketidakjujuran. Ada mahasiswa yang menyontek atau melakukan plagiarisme terhadap makalah atau paper terentu – tanpa mencantumkan sumber aslinya – namun masih bisa untuk dimaafkan. Ada aparat pemerintah melakukan pungutan liar, korupsi, kolusi, mark up, dsb. dibiarkan begitu saja. Ketidakjujuran yang dimaafkan atau dimaklumi ini pun lama-lama bisa mengakar menjadi kebiasaan bahkan budaya di masyarakat tersebut. Bahkan bisa balik ke diri kita sendiri. Ini sudah ketentuan Allah yang tidak bisa diubah. Bila tidak segera insyaf, tunggulah sampai Allah yang mengingatkan bahkan mengazab masyarakat tersebut atas segala bentuk ketidakjujuran yang mereka lakukan. Na’udzubillahi min dzalik! Kita berlindung kepada Allah dari hal tersebut.
Ingat juga bahwa segala bentuk ketidakjujuran pasti akan terekam. Sekeras apa pun kita menyembunyikan dusta di dunia ini, bahkan jika Tuhan mengizinkan bahwa dusta ini tidak terungkap selama kita hidup, nanti saat pengadilan di akhirat juga akan di-play back. Tidak ada sesuatu yang bisa disembunyikan secara mutlak. Jadi, memang benar bahwa segala bentuk kejujuran dan ketidakjujuran akan pulang ke diri kita sendiri. Kita yang merasakan manfaat kejujuran, dan kita sendiri juga yang merasakan kerugian dari ketidakjujuran. Sungguh Allah Maha Mengetahui dan Maha Membalas tindakan kita.
Well, tulisan ini adalah interpretasi dan tambahan dari saya sendiri dan dari khutbah Jumat tersebut. Saya tidak memungkiri bila ada beberapa poin dari khutbah Jumat yang mungkin belum tercakup di tulisan saya ini. Bila Anda, yang juga berada di masjid dan waktu yang sama, menemui makna yang tidak sesuai dengan makna khutbah Hari Jumat, silakan Anda koreksi
. Semoga tulisan ini bisa membantu Anda, pembaca sekalian, dan saya untuk terus ingat tentang nilai kejujuran, dan semoga kejujuran semakin dijalankan dan ditegakkan dengan maksimal di Indonesia. Terima kasih dan semoga sukses untuk Anda sekalian, para pembaca
.
- “Abang ngomong abang. Ijo ngomong ijo. Kudu wani mati demi kebenaran (Merah bilang merah. Hijau bilang hijau. Harus berani mati demi kebenaran)” -Motto Loedroek ITB.
- “Kejujuran terpahit lebih baik daripada kebohongan termanis” -Petuah bijak
- “Sekali lancung ke ujian, seumur hidup tak akan dipercaya” -Petuah bijak
-KnightDNA-







kejujuran memang agak sulit ya . . . .tapi mesti semangat. . .
benar sekali. kita harus semangat untuk terus menerapkan kejujuran dalam hidup kita.
assa.
nais post yas
wass.
wa’alaikum salam.
thanks, bro ricong