Beranda > Introspeksi, Islam > Kejujuran (bagian II)

Kejujuran (bagian II)

Lanjutan dari bagian I.

Anda benar-benar tidak ingat dengan masalah ini sampai suatu ketika telepon selular Anda berdering malam harinya. Rupanya Anda dihubungi pihak kepolisian,

“Selamat malam, Bapak/Ibu. Apakah Bapak/Ibu tadi berada di ATM X sekitar pukul 13.00?”
“Iya, betul. Maaf dengan siapa saya bicara?” (Anda pun langsung teringat dengan uang Anda, tapi Anda tetap tenang dan tidak panik).
“Kami dari kepolisian sektor Y. Tadi kami mendapat laporan dari bank dan orang yang mengantri setelah Bapak/Ibu, bahwa uang Bapak/Ibu sejumlah Z rupiah tertinggal di ATM X. Sekarang uang tersebut ada di tangan kami. Apakah Bapak/Ibu bisa ke kantor polisi sektor Y sekarang untuk mengambilnya? Atau apabila Bapak/Ibu tidak sempat mengambilnya sekarang, kapan kami bisa ke rumah Bapak/Ibu untuk mengantarkan uang Bapak/Ibu ini?”

Contoh Ideal 3 – Kios/Toko dan Masjid

Bayangkanlah Anda adalah seorang pemilik toko yang akan melaksanakan ibadah Salat Jumat. Kebetulan di kampung Anda, lokasi masjid tempat Anda biasa melaksanakan Salat Jumat lumayan jauh, katakanlah 500 m. Saat ini adalah kurang 15 menit dari waktu zuhur. Anda dan karyawan pria Anda yang menjaga toko pun bergegas berangkat ke masjid untuk melaksanakan ibadah Salat Jumat. Anda dan karyawan Anda meninggalkan toko begitu saja dan toko tidak dalam keadaan terkunci.

Selanjutnya, Anda dan karyawan melaksanakan ibadah Salat Jumat dengan khusyuk dan tanpa perasaan waswas. Sepulang dari masjid, Anda dan karyawan pun langsung melanjutkan kembali aktivitas perdagangan tanpa kehilangan satu barang apa pun!

Betapa nikmatnya apabila kita tinggal di tempat yang masyarakatnya mendukung terwujudnya tiga contoh ideal tersebut. Ketiga contoh tersebut memang benar-benar ada dan nyata. Contoh seperti nomor 1 dan 2 ada di negara Jepang, sedangkan contoh seperti nomor 3 ada di Arab Saudi, tepatnya kota Makkah.

Beliau juga memberikan kontradiksi dari ketiga contoh ideal tersebut di Indonesia (beliau memang tidak menyebutkan Indonesia secara eksplisit :P , tapi saya yakin beliau menyindir kondisi negeri ini). Contoh berikut ini sudah saya modifikasi sesuai dengan realitas yang pernah saya alami atau saya dengar:

  1. Jangan berharap Anda bisa tidur nyenyak di kereta api. Salah-salah, barang penting yang lalai Anda awasi bisa hilang, bahkan di kereta api kelas eksekutif sekalipun.
  2. Jangankan berharap uang nasabah bisa kembali. Yang ada adalah uang di ATM yang justru bobol dengan “otak” pembobolannya tidak lain adalah sang manajer bank itu sendiri.
  3. Jangan berharap barang-barang Anda di toko Anda yang lumayan jauh dari masjid akan aman. Sandal Anda yang ditaruh di halaman masjid pun bisa hilang.

Sungguh menohok :P

bersambung

  1. Mei 18, 2010 pukul 13:28:44 | #1

    Cerita 1 beserta perbandingannya dg di Indonesia pernah diceritain Kang Abik di pengajian waktu tu di sini…

    • Mei 18, 2010 pukul 15:43:57 | #2

      Hoo *manggut2 :D *. Berarti pas pengajiannya Kang Abik di Tokyo itu kamu dateng ya, Sha? Rame acaranya?

      • Mei 18, 2010 pukul 20:34:59 | #3

        Dateng donk. 2x malah, ada yang sesi pemuda dan mahasiswa, ada yang sesi umum. Rame2. Seru :D

  1. Mei 18, 2010 pukul 15:39:19 | #1

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.