Kejujuran (bagian I)
Saya sangat terkesan dengan khutbah Jumat tanggal 19 Februari 2010 di Masjid Salman. Kebutulan pada Jumat tersebut saya melaksanakan Salat Jumat di Masjid Salman, dan khatib pada Salat Jumat saat itu adalah Pak Hermawan K. Dipoyono, dosen Teknik Fisika ITB yang juga pembina Keluarga Mahasiswa Islam ITB/Gamais (mohon koreksi jika saya salah). Topik khutbah yang beliau angkat adalah kejujuran. Sekilas, topik tersebut tampak sebagai topik standar Khutbah Jumat, dan ternyata saya salah!
Topik ini cukup mengena dengan penyampaian yang menurut saya keren, “membumi”, dan realistis. Beliau memberikan contoh ideal tentang aplikasi kejujuran di suatu masyarakat. Berikut ini adalah beberapa contohnya:
Contoh Ideal I – Gerbong Kereta Api
Bayangkanlah Anda sedang mengendarai kereta api dengan membawa beberapa perlengkapan penting dan berharga. Satu dari beberapa perlengkapan tersebut adalah notebook/laptop. Suatu ketika, Anda lupa membawa notebook Anda selepas kereta berhenti, sehingga barang tersebut tertinggal di dalam gerbong kereta api. Anda baru menyadari hal tersebut setelah Anda sampai di rumah.
Selanjutnya, Anda pun menelepon stasiun tempat Anda terakhir berhenti. Anda menyebutkan ciri-ciri notebook Anda yang hilang tadi. Penerima telepon (pihak stasiun) mengatakan bahwa Anda diminta untuk menunggu sekitar 1 s.d. 1,5 jam untuk mencari notebook Anda. Anda pun menunggu dengan tenang sambil melakukan aktivitas lain.
Sejam berikutnya, pihak stasiun menelepon Anda. Kali ini peneleponnya adalah kepala keamanan stasiun langsung. Sang kepala keamanan stasiun memberitahu Anda, “Bapak/Ibu, notebook Anda telah kami temukan dan sekarang sudah berada di tangan kami. Apakah Bapak/Ibu bisa ke stasiun sekarang untuk mengambilnya? Atau apabila Bapak/Ibu tidak sempat mengambilnya sekarang, kapan kami bisa ke rumah Bapak/Ibu untuk mengantarkan notebook milik Bapak/Ibu ini?”.
Contoh Ideal 2 – ATM
Bayangkanlah pada suatu hari (saat siang hari) Anda mengambil uang di ATM. Anda melakukan prosedur transaksi via ATM seperti biasa: memasukkan kartu ATM, memasukkan nomor PIN, memilih menu transaksi, memasukkan nilai nominal uang yang akan diambil, dan ATM pun mengeluarkan uang tunai sejumlah nilai nominal yang Anda masukkan. Transaksi selesai, lalu Anda mengambil kembali kartu ATM, dan ups… Anda malah lupa membawa uang tunainya!
bersambung







Komentar Terakhir