March 21, 2008...13:35:06

Sanksi bagi yang Suka Mengabaikan Waktu Salat

Jump to Comments

Halo, pengunjung sekalian. Tadi malam saya menemukan sebuah artikel yang membuat hati saya merasa “tertampar” dan “bangun”. Tertampar di sini tentunya berkonotasi positif karena bersifat mengingatkan saya untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Tamparan tersebut adalah tamparan atas pandangan saya selama ini terhadap ritual ibadah yang merupakan tiang agama yang saya anut, salat. Saya berharap agar diri saya pribadi dan saudaraku kaum Muslim semua bisa tergugah hatinya dan mampu mengubah paradigma kita semua tentang salat setelah membaca artikel di bawah ini.

Praying in New York City

Copyright © Emile Wamsteker/AP Photo, taken from www.jannah.org

Disadur dari buku “Jejak Langkah Mengenal Allah” (dengan sedikit penyuntingan pada kalimat yang terasa taksa dan kurang baku).

Saudaraku, ada lima belas kesengsaraan yang akan menimpa orang yang mengabaikan waktu shalat. Enam kesengsaraan akan menimpa mereka ketika di dunia, tiga ketika sakaratul maut, tiga ketika di dalam kubur, dan tiga lagi ketika bangkit dari kubur.

Enam kesengsaraan ketika di dunia adalah:

  • Pertama, dicabut keberkahan hidupnya.
  • Kedua, dihapus ciri-ciri orang saleh yang berada di wajahnya.
  • Ketiga, setiap amal baik yang dilakukan tidak akan diberi pahala oleh Allah SWT.
  • Keempat, doa yang dipanjatkan tidak akan pernah dikabulkan.
  • Kelima, tidak akan pernah mendapatkan bagian dari doa orang-orang yang saleh.
  • Keenam, keluar dari dunia tanpa membawa iman.

Sedangkan tiga kesengsaraan ketika sakaratul maut adalah:

  • Pertama, mati dalam keadaan sangat hina.
  • Kedua, mati dalam keadaan sangat lapar.
  • Ketiga, mati dalam keadaan sangat dahaga, sehingga apabila seluruh air samudra diminum (maka) tidak akan bisa mengurangi rasa hausnya.

Tiga kesengsaraan ketika di dalam kubur adalah:

  • Pertama, segera dijepit oleh kubur.
  • Kedua, sepanjang siang dan malam dibakar dengan api membara.
  • Ketiga, dililit dengan erat sekali oleh ular besar bernama Syuja. Ular ini matanya terbuat dari api; kukunya panjang dan terbuat dari besi yang panjang setiap kukunya adalah perjalanan sehari.

Dan, tiga kesengsaraan ketika dibangkitkan dari kubur adalah:

  • Pertama, dihisab dengan berat.
  • Kedua, mendapat murka Allah SWT.
  • Ketiga, dimasukkan ke dalam Neraka.

Maka dari itu, ketika mendengar suara azan sebaiknya kita bergegas wudu lalu mendirikan salat, karena azan memiliki makna-makna filosofis yang luar biasa.
Dalam kitab Tanbihul Ghafilin, Sa’id Jubair berkata, Ibnu ‘Abbas r.a. ketika mendengar suara (seruan) azan, ia menangis sampai basah sorbannya dan merah matanya. Ketika ditanya beliau menjawab, “Seandainya manusia tahu persis suara (seruan) mu’adzin, pasti tidak mungkin sempat beristirahat dan tidur”. Apa maksudnya? Ia lalu menjelaskan,

  • Seruan pertama, “Allahu Akbar” mempunyai makna, “Hai sekalian manusia yang telah sibuk mengurusi harta dunia, berhentilah dulu sejenak. Sambutlah seruan ini. Istirahatkanlah badanmu dan segeralah beramal baik demi keuntungan dirimu.”
  • Seruan kedua, “Asyhadu alla ilaha illallah” mempunyai makna, “Aku mohon persaksian semua masyarakat langit dan bumi, bagiku di sisi Allah kelak di Hari Kiamat bahwa aku telah menyeru kalian.”
  • Seruan ketiga “Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah” mempunyai makna, “Aku mohon persaksian dari para Nabi, khususnya Nabi Muhammad SAW, kelak di Hari Kiamat bahwa aku telah memberitahu kepada kalian setiap harinya lima kali.”
  • Seruan keempat, “Hayya ‘alash shala” mempunyai makna, “Sungguh Allah telah menegakkan salat bagi kalian, maka tegakkanlah salat olehmu.”
  • Seruan kelima, “Hayya ‘alal falah” mempunyai makna, “Masuklah kalian dalam rahmat dan peganglah petunjuk bagimu.”
  • Seruan keenam, “Allahu akbar” mempunyai makna, “Segala pekerjaan (urusan duniawi) terlarang bagimu, sebelum melaksanakan shalat.”
  • Seruan ketujuh, “La ilaha illallah” mempunyai makna, “Inilah amanat tujuh lapisan bumi dan langit, (yang) sudah berada di pundakmu. Maka terserah kepada kalian, akan dilaksanakan atau tidak.”

Astaghfirullah hal ‘azhim. Ya Allah, aku terkadang masih meninggalkan dan melalaikan salat yang harusnya kutegakkan sebagai bukti kehambaanku atas-Mu, atau bahkan sering menunda waktu salat dan menganggap bahwa urusan duniaku lebih penting daripada urusan salat ini. Ampunilah aku, Ya Allah. Aku berusaha untuk tidak lagi melalaikan urusan salat dan bersegera menunaikannya ketika tiba waktunya.

-KnightDNA-

4 Comments

  • “Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?” Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan adalah kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan adalah kami mendustakan hari pembalasan, hingga datang kepada kami kematian.” (Al Muddatstsir[74]: 42-47)
    —-
    Iya nih, masih sering menunda sholat juga.

  • @alonx:
    Maaf kalo saya nggak sependapat sama Mas Alonx,

    Apa Mas Alonx ini gak pernah denger ceritanya Nabi Musa a.s.? Nabi Musa ingin bertemu langsung dengan Allah SWT, tapi apa yang terjadi? Sesaat kemudian Nabi Musa a.s. langsung pingsan, dan mendapat teguran dari Allah SWT. Jadi, manusia tidak akan mampu secara fisik bertemu dengan zat Allah SWT karena secara zat memang berbeda dan tidak bisa disamakan. Tapi, Allah SWT itu ada di diri makhluk (manusia) lewat ciri2 yang bisa kita kenali bersama. Ada sifat2 manusia yang diturunkan dari Allah SWT tapi dalam keterbatasan fisiknya. Allah SWT dan makhluknya hanya bisa berkomunikasi lewat satu media, yaitu hati/perasaan. Kalau Anda bisa mengelola hati dan perasaan Anda, Anda akan bisa “nyambung” dengan Allah SWT. Itulah media yang dipakai para Rasul, Nabi, dan orang2 saleh untuk berkomunikasi dengan Allah SWT.

    Dan kalau Mas Alonx ingin melihat kebesaran Allah SWT sebenarnya jawabannya sederhana, tapi sayangnya tidak semua orang termasuk saya memperoleh atau merasakan jawabannya (meski sudah tahu secara teoretis). Yup, jawabannya adalah “Silakan Anda rasakan sendiri kebesaran Allah, SWT menggunakan hati dan perasaan Anda masing2…”. Akhirnya kembali lagi untuk menggunakan hati dan perasaan kita masing2. (Ya Allah, saya sendiri masih belum mampu hingga ke tahap ini…).

    Mohon koreksi bila salah. Saya juga sama2 belajar. Ilmu tentang ma’rifat ini memang sangat dalam dan luas untuk dipahami, serta hendaknya dipahami dengan hati2 dan atas petunjuk yang benar. Analoginya, Anda mau makai barang tapi barang itu masih sangat asing bagi Anda, otomatis Anda perlu user-guide/manual agar tahu bagaimana cara memakainya. User-guide itu tak lain dan tak bukan adalah Al Qur`an dan Al Hadits. Nggak perlu mikir yang aneh2, kalau bertentangan dengan user-guide tadi, ya tidak perlu diikuti :) .

    Saya kurang sependapat dengan pemakaian kata “menantang”. Kata “menantang” cenderung menuju ke hal2 yang bersifat “tidak setuju”, “bermusuhan”, dan “jauh”. Lebih baik lagi kalau Anda tadi menggunakan kalimat, “Saat ini aku sedang ingin tahu banyak hal tentang Allah SWT”.

    Masalah hati dan perasaan ini sepertinya menjadi jawaban untuk pertanyaan pertama dari Mas Alonx. Ya, tahu dan mengetahui “sesuatu” belum tentu bisa merasakan apa yang ada di balik “sesuatu” itu.

    Terakhir, mohon maaf bila ada yang kurang berkenan.

    Sekedar 2 kepeng dari saya,
    -KnightDNA-

  • hmm, mana mas alonx-nya?
    iya, k, yg namanya iman itu emang sesuatu yang sangat halus mpe banyak hal yg ga bisa dijawab iptek. yang pasti hati qta meyakini bahwa hal2 ghaib itu ada… panduannya? ya AQ dan As-sunnah

    BTW, shalat itu emang pembeda si muslim dan si kafir… jadi, banyak konsekuensi yang didapat klo ga shalat…

    hix2, ci juga suka nyesel klo shalatnya mulur2 (lalai gitu)

  • semua orang yang punya sentuhan iman di hatinya, bisa melihat kebesaran Allah dengan melihat tanda2nya…cobalah anda lihat dalam Alquran, ciri2 ayatnya biasanya diawali dengan kata : Wamin Aayaatihi…..dst, maaf saya lupa surat apa dan ayat berapa, sebab itu pelajaran waktu di sekolah….
    Salam…


Leave a Reply